Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

DUNIA DI MATA KUBUR

"Ingat, dunia ini gelap dan kubur itu terang." Kalimat
ini begitu seringnya disampaikan oleh si Kyai kepada
murid-muridnya. Hampir dalam setiap khutbahnya
bahkan. Hal ini jelas saja membuat santri- santrinya
kebingungan. Bagaimana bisa dunia yg terang
benderang seperti ini bisa dikatakan gelap. Siang hari ada matahari yg selalu setia membagi-bagikan
sinarnya, bila malam tiba saat matahari tenggelam,
maka banyak alat penerang lainnya yg bisa
menggantikan cahaya matahari sebagai penerang.
Jadi bagaimana bisa dunia ini dikatakan gelap ?
Keheranan ini telah lama mereka simpan dalam hati mereka, hingga akhirnya mereka bersepakat untuk
menanyakan hal ini kepada Kyai. Maka mereka pun
mendatangi Kyai di dalam kamarnya kemudian salah
seorang diantara mereka berkata mewakili yg
lainnya, "Wahai Kyai sudilah
kiranya anda menjelaskan kepada kami semua perihal kalimat yg sering anda sampaikan kepada
kami."
"Kalimat manakah yg kalian maksudkan ?" tanya
Kyai. "Dunia ini gelap dan kubur itu terang" jawab si
santri. "Bagaimana bisa anda mengatakan seperti itu,
padahal dunia ini terang benderang dengan matahari dan alat penerang lainnya. Sedangkan dikubur tidak
ada
cahaya yg bisa menerangi ?" lanjut si santri.
Gigi putih berjajar rapih terlihat saat Kyai tersenyum
bijak mendengar pertanyaan santri-santrinya
tersebut. "Baiklah, agar kalian paham dengan perkara ini maka kita semua akan melakukan perjalanan ke
tengah hutan sana." jawab Kyai.
Singkat cerita, berkumpullah Kyai dan semua
santrinya pada hari yg telah ditentukan untuk
melakukan perjalanan ke tengah hutan, seperti yg
telah direncanakan. Maka para santri pun mulai berjalan bergerombol memasuki hutan dengan tanda
tanya besar yg ada dalam benak mereka masing-
masing. Apa yg sebenarnya diinginkan oleh Kyai
mereka itu ?
Di tengah perjalanan ditemui sebuah gua, dan Kyai
pun menghentikan langkahnya di mulut gua. Lalu ia berkata kepada para santrinya, "Masuklah kalian ke
dalam gua ini. Di dalamnya dipenuhi dengan kerikil yg
nanti akan kalian injak. Ambillah kerikil-kerikil itu
sesuka hati kalian, sebanyak-banyaknya. Yg tidak
mengambil rugi dan yg
mengambil pun rugi. Tapi ingat, kesempatan kalian masuk ke dalam gua hanya sekali, bila telah keluar
maka kalian tidak bisa masuk lagi."
Dengan keheranan yg semakin bertumpuk, para
santri itu pun masuk ke dalam gua yg sangat gelap.
Begitu masuk ke dalam gua mereka pun mulai
menginjak kerikil seperti yg dikatakan Kyai. Maka mereka semua mulai berpikir, apa yg harus
dilakukan, mengambil atau tidak mengambil. Maka
kelompok santri pada saat itu terbagi ke dalam tiga
kelompok besar. Kelompok pertama berpikir, "Lebih
baik saya tidak mengambil saja, toh mengambil pun
rugi. Untuk apa kerikil- kerikil ini, hanya merepotkan saja. Akan menambah beban perjalanan nantinya."
Maka kelompok pertama ini tidak mengambil sedikit
pun krikil-kerikil tadi.
Kelompok kedua berpikir, "Mengambil rugi, tidak
mengambil pun rugi. Ya, dari pada tidak sama sekali,
lebih baik saya mengambil seperlunya saja." Maka kelompok kedua ini mengambil beberapa biji kerikil
saja, seperlunya. Dan kelompok ketiga berpikir,
"mengambil rugi, tidak mengambil pun rugi. Tapi apa
yg dikatakan Kyai pasti ada gunanya." Maka
kelompok terakhir ini mengambil kain sarung dan
memenuhinya dengan kerikil tadi. "Sekarang lihat apa yg kalian ambil tadi." perintah
Kyai setelah semua santri keluar dari dalam gua.
Kelompok pertama menyesal sejadi-jadinya begitu
melihat kelompok kedua mengeluarkan kerikil tadi
dari dalam sakunya. Ternyata semua kerikil yg tadi
mereka injak adalah intan permata. Mereka begitu menyesal kenapa mereka tadi tidak mengambil
sedikit pun ? Mereka pun tertunduk menyesali
kebodohannya. Tapi apa guna, toh mereka tidak akan
bisa masuk lagi ke dalam gua walaupun mereka
menangis sejai- jadinya. Kelompok kedua pun
demikian, mereka menyesal kenapa tidak mengambil lebih banyak lagi? Tapi penyesalan tinggallah
penyesalan, karena mereka pun tidak mungkin lagi
masuk ke dalam gua untuk mengambil
intan permata tadi. Pun demikian dengan kelompok
yg mengambil banyak kerikil, mereka menyesal
kenapa tidak mereka ambil saja semua kerikil yg ada. Tapi mereka termasuk oarng-orang yg beruntung.
"Begitulah dunia ini" kata Kyai bijak. "Allah telah
perintahkan kita semua untuk beramal sebanyak-
banyaknya. Shalat, zakat, shaum, tilawah Qur'an dan
banyak lagi perintah lainnya. Kesemua amal tadi
adalah permata, tapi karena dunia ini gelap maka kita semua tidak mampu melihat hakikat permata itu.
Sebagaimana kalian tidak bisa melihat hakikat kerikil
yg kalian injak di dalam gua tadi. Tapi begitu kalian
keluar dari dalam gua, maka kalian bisa melihat
dengan sejelas-jelasnya hakikat kerikil tadi." terang
Kyai. Kemudian Kyai yg bijak tadi meneruskan, "Begitulah
kita semua, kelak ketika masuk ke dalam kubur,
barulah kita tahu dan yakin dengan seyakin-yakinnya
kegunaan amal-amal yg Allah perintahkan kepada
kita semua. Yg hari ini sering kita lalaikan karena kita
tidak mampu melihat hakikat dan kegunaan amal- amal tadi karena memang dunia ini gelap. Sangat
gelap!

ENAM PERTANYAAN IMAM AL GHOZALI

Sebuah cerita diskusi antara
Imam Al-Ghozali dengan
muridnya. Ada enam
pertanyaan yang dilontarkan beliau kepada para
muridnya, dan kesemuanya
sangat bagus untuk kita simak niali-nilai yang
terkandung di dalamnya. Suatu ketika Imam Al
Ghozali berkumpul dengan
murid-muridnya. Lalu Imam
Al Ghozali bertanya. Wahai murid-muridku
sekalian, coba kalian jawab "Apa yang paling dekat
dengan diri kita di dunia
ini?" Murid-muridnya menjawab
"orang tua,guru,kawan,dan
sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan
semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat
dengan kita adalah "MATI".
"Tiap-tiap yang berjiwa akan ?
merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan
ke
dalam surga maka sungguh
ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayaka" (Ali Imran 185). Kematian
adalah sesuatu
yang tiada seorang pun tahu
kapan ia akan datang.
Karena itu manusia harus selalu bersiap diri
menghadapinya. Terkadang ia jauh terasa, padahal ia
dekat dalam kenyataannya.
Janganlah kita lengah dalam
memahami hal ini, jangan
sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita besar hati.
Justru kerahasiaannya harus
kita maknai bahwa mati bisa
terjadi kapan saja dan
dimana saja tanpa adanya
peringatan dari-Nya. Inilah yang hendak disampaikan oleh Al-Ghazali kepada
murid-muridnya. Lalu Imam Ghozali
meneruskan pertanyaan
yang kedua.... "Apa yang
paling jauh dari diri kita di
dunia ini?" Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan,
matahari dan bintang -
bintang". Lalu Imam Ghozali
menjelaskan bahawa semua
jawapan yang mereka
berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar
adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara
sekalipun
kita tidak dapat kembali ke
masa lalu. Oleh sebab itu
kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan
datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran
Agama. Ini tepat dengan sebuah
hadits yang menganjurkan
bahwa kehidupan kita hari
ini harus jauh lebih baik dari kemaren, dan hari esok
harus lebih baik dari hari ini. Jika difikir lebih dalam,
maka yang perlu
diperhatikan adalah waktu.
Waktu tidak akan datang
berulang untuk kedua kali, sekali kita bertindak kesalahan kita tidak bisa
merevisinya lagi. Paling
banter kita hanya bisa
bertobat dan berharap
pengampunan. Sebagian
pepatah bilang waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Emas, harta bisa
dicari tapi waktu yang sudah
berlalu tak mungkin hadir
kembali. Jama'ah Jum'ah yang
berbahagia Mati dan waktu adalah dua
rahasia yang ada di genggaman-Nya. Kita
sebagai hamba hanya bisa
berharap dan berdo'a semoga
Allah swt memberikan anugrah kepada kita agar
mampu memanfaatkan
waktu untuk mempersiapkan diri
menghadapi kematian. Lalu Imam Ghozali
meneruskan dengan
pertanyaan yang ketiga....
"Apa yang paling besar di
dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari". Semua
jawapan itu benar
kata Imam Ghozali. Tapi
yang paling besar dari yang
ada di dunia ini adalah
"NAFSU" "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka
Jahannam kebanyakan dari
jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk
melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)
. Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka
itulah orang-orang yang
lalai." (QS. 7:179) (Al A'Raf
179). Nafsu adalah hal penentu pada diri manusia. Ingin
bahagia yang hakiki?
Kendalikanlah nafsumu,
ingin celaka selamanya?
Turuti nafsumu... pengendalian nafsu adalah
kunci dalam hidup ini. Itulah pesan tersembunyi
dari al-Ghazali bahwa nafsu
adalah hal paling besar, hal
yang paling menentukan.... Kemudian al-Ghazali
meneruskan pada Pertanyaan
keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Murid-murid Ada yang
menjawab "besi dan gajah". Semua jawapan adalah
benar,
kata Imam Ghozali, tapi
yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" "Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan
amat bodoh," (QS. 33:72) (Al Ahzab 72). Tumbuh-
tumbuhan, binatang, gunung, dan
malaikat semua tidak
mampu ketika Allah SWT
meminta mereka untuk
menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi
manusia dengan sombongnya menyanggupi
permintaan Allah SWT,
sehingga banyak dari
manusia masuk ke neraka
karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Mati dan waktu adalah dua rahasia yang ada di
genggaman-Nya. Kita
sebagai hamba hanya bisa
berharap dan berdo'a semoga
Allah swt memberikan anugrah kepada kita agar
mampu memanfaatkan waktu untuk
mempersiapkan diri
menghadapi kematian. Pertanyaan Imam al-Ghazali
yang kelima adalah, "Apa
yang paling ringan di dunia
ini?"... Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-
daunan". Semua itu benar kata Imam
Ghozali, tapi yang paling
ringan di dunia ini adalah
meninggalkan Sholat. Gara-
gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara- gara bermesyuarat kita
meninggalkan sholat. Kita harus ingat bahwa
sholat adalah hal pertama
yang ditanyakan Allah
kepada manusia. Dan sholat
adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anenya, meski demikian sholat
adalah hal termudah yang
sering dilewatkan oleh
orang-orang muslim?
Ringan sekali mlewatinya. Dan pertanyaan keenam
adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"... Murid-muridnya menjawab
dengan serentak, "pedang". Benar kata Imam Ghozali,
tapi yang paling tajam
adalah "LIDAH MANUSIA"
Karena melalui lidah,
Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Ingatlah sebuah hadits yang
menerangkan: "seorang muslim adalah
orang bisa menjaga orang
muslim lainnya dari
lisannya dan tangannya".WALLAHU A'LAM

Label

Subscribe

HTML hit counter - Quick-counter.net
#top I cah cepu ngeblogger apa adanya Suraulapuk copyright 2011
Mobile Template 4 blogger.com